Minggu, 22 Januari 2012



Daftar Negara yang Toleran dan Restrictive terhadap Kewarganegaraan Ganda:

Eropa

Toleran

Restrictive

Bulgaria

Andora

Republik Federal Yugoslavia

Austria

Swedia (2003)

Belgia

Cyprus

Kroasia

Prancis

Republik Czech

Greece

Denmark

Switzerland

Iceland

Serbia dan Montenegro

Belanda

Hungaria (1993)

Norwegia

Irlandia

Polandia

Italia (1992)

Romania

Latvia

Ukraina

Portugal (1981)

Jerman* (s/d usia 23)

Lithuania

Macedonia

Malta

Spanyol

Turki

Inggris

The Americas


Antigua dan Barbuda

Bolivia

Barbados

Chile

Belize

Cuba

Brazil (1996)

Argentina

Canada (1977)

Venezuela

Chile*

Bahamas

Colombia (1991)

Costa Rica (1995)

El Salvador (1983)

Mexico (1996-2003)

Peru

USA

El Salvador (1983)

Trinindad & Tobago (1988)

Dominican Republic (1994)

Ecuador (1995)

Africa


Benin

Bostwana

Burkina Faso

Burundi

Cape Verde

Cameroon

Central African Republic

Congo

Egypt

Djibouti

Nigeria

Namibia

Mauritius

Tanzania

South Africa

Zimbabwe

Kenya, Ghana

Algeria

Angola



Asia and Oceania

Armenia, Azerbaijan

Australia (2002)

Bahrain

Bangladesh

Belarus

Cambodia

Bhutan

Israel

Brunei

Jordan

Burma

Lebanon

China

New Zealand

Fiji

Pakistan (2002)

Afganistan

Russia

Indonesia* (s/d usia 21)

Syria

Iran

Tonga

Japan

Western Samoa

Kiribati

Philippines (2003)

North Korea

India (2003, terbatas pada 16 negara migrasi)*

Malaysia

Nepal

Papua New Guinea

Singapore

Solomon Island

Thailand

Vietnam

Kewarganegaraan Ganda di Indonesia: Mengapa Tidak?

Presiden perempuan pertama Irlandia, Mary Robinson, dalam pidato pelantikannya di tahun 1990 menyerukan agar orang Irlandia di luar negeri dapat mengajukan kembali kewarganegaraan Irlandianya. Robinson berhadap bahwa partisipasi kaum migran Irlandia di luar negeri dapat membawa pengaruh pada pembangunan jangka panjang.

Pada tahun 2000 di Berkeley, California, Duta Besar Indonesia saat itu (Dorodjatun Kuntjorojakti) mengajukan wacana yang sama untuk memperkuat ekonomi Indonesia dengan mengajak partisipasi aktif WNI migran di luar negeri. Forum tersebut dihadiri oleh ratusan warga negara Indonesia di Amerika Serikat serta dihadiri pula oleh Menteri Hukum dan HAM saat itu, Yusril Ihza Mahendra.

Sepuluh tahun sesudahnya, ilmuwan Indonesia baik yang berada di luar negeri untuk bekerja maupun yang berada di Indonesia menghimpun diri dalam wadah Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I4) sebagai upaya untuk “ Meningkatkan koordinasi dan kerjasama antar ilmuwan di luar negeri dengan ilmuwan di dalam negeri, elemen pemerintahan, institusi pendidikan tinggi, institusi riset, dunia usaha dan masyarakat… untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia dengan proses alih dan transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang disesuaikan dengan identitas dan kearifan nasional (http://www.i-4.or.id/web/index.php/tentang-i-4/visi-misi-i4)

Mary Robinson, Pak Dorodjatun Kuntjorojakti, dan ilmuwan penggagas I4 mempunyai visi yang sama bahwa warga negara di manapun mereka berada merupakan asset bangsa. Berbagai penelitian antropologi tentang migran di luar negeri menunjukkan bahwa migran tidak pernah tercerabut dari akar tanah airnya, bahkan secara simultan hidup dalam dunia transnasional, yaitu di tanah air dan negara barunya. Kehidupan simultan ini membawa dampak positif bagi tanah air dalam wujud remitansi ekonomi, sosial, maupun politik. Data dari World Bank tahun 2006 menunjukkan bahwa remitansi ekonomi kaum migran jauh melampaui Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain remitansi, sumbangan sukarela yang diberikan migran kepada salah satu pengelola zakat (PKPU) telah mencapai Rp.3,4 miliar pada tahun 2006 (http://asianphilanthropy.org/APPC/DiasporaGiving-conference-2008/DiasporaGiving-Indonesia-2008.pdf)

Selain itu, individual migran Indonesia yang telah mendapatkan kewarganegaraan baru tidak pernah menyerah untuk mempromosikan Indonesia di negara barunya dalam skala yang cukup besar. Sebagai contoh adalah Rima Karmila McGraw yang dinobatkan sebagai “The Most Influential Asian Americans in Georgia” selama 10 tahun terakhir secara sukarela menjembatani perwakilan RI dan masyarakat Indonesia di Atlanta dalam pengurusan dokumen, pelayanan sosial, dan membesarkan sanggar tari tradisional Indonesia. Yetty Aritonang yang menikah dengan warga negara Prancis dan tinggal di jantung kota Paris menjadi Vice President Finance pada sebuah perusahaan besar serta aktif dalam memasyarakatkan tarian Indonesia. Terakhir Yetty menerbitkan buku tentang Batak Toba dalam bahasa Prancis yang diterbitkan l’Harmattan-Paris. Selain mereka tidak pernah tercerabut dari akar dan aktif mempromosikan budaya negara asal, WNI mempunyai kecenderungan untuk pulang, seperti yang diucapkan Sri Mulyani Indrawati dalam sebuah makan malam di hadapan the World Bank Family Networks: “Indonesians tend to return to their home country”.


Kewarganegaraan Ganda: Untuk siapa?

Pada prinsipnya, petisi mengajukan usulan bahwa setiap WNI tidak kehilangan status kewarganegaraannya jika mendapatkan kewarganegaraan lain atau mendapatkan status penduduk tetap di negara lain. Kewarganegaraan ganda akan meningkatkan kesempatan bagi Indonesia untuk bersaing di luar negeri.

Selain itu, orang asing yang telah tinggal di Indonesia (sebagai penduduk tetap) karena ikatan keluarga dan perkawinan, tinggal selama (beberapa) tahun berturut-turut atau memenuhi kriteria keimigrasian tertentu misalnya kontribusi terhadap negara atau investor dengan jumlah tertentu seperti terindikasi pada PP Keimigrasian tahun 1995.

Bentuk Kewarganegaraan Ganda seperti apa?

Setiap negara mempunyai kebijakan berbeda mengenai Kewarganegaraan Ganda. Jika seseorang mempunyai Kewarganegaraan Ganda, maka ia akan memakai status warga negara asingnya jika ia tinggal di negara tersebut, dan menggunakan kewarganegaraan Indonesianya jika ia berada di Indonesia. Praktik ini akan berbeda jika negara tersebut mengijinkan kewarganegaraan ganda, maka ia bisa memakai kedua status kewarganegaraannya pada saat yang bersamaan.

Untuk menandatangani petisi, silakan klik link ini

https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dFBXcDNFR2tEQnM2QS1XT0RrOEhTNmc6MQ

Mendaftar Beasiswa: Perspektif Lain

Tulisan ini berkisah tentang pengalaman berburu beasiswa. Saya yakin, cerita tentang pengalaman mendaftar beasiswa di Indonesia untuk ke luar negeri sudah banyak, misalnya disini http://motivasibeasiswa.org/2011/01/tutik-rachmawati-tips-berburu-beasiswa/ atau http://myspiritmap.blogspot.com/2010/04/tips-memulai-berburu-beasiswa.html.

Pada catatan ini, saya ingin membagi strategi berburu beasiswa yang lain, di mana pola ini berlaku bagi beasiswa ke luar negeri (bersaing dengan sesame WNI), maupun beasiswa yang diburu ketika kita di luar negeri (saingannya mahasiswa se-penjuru dunia). Yang ingin saya garisbawahi, pintar dengan Indeks Prestasi tinggi tentu saja menjadi prasyarat pendaftaran beasiswa, misalnya IPK minimal 3.00 skala 4.00, tetapi IP tinggi dan afiliasi dengan universitas ternama tidaklah cukup. Banyak faktor lain yang berperan dalam keberhasilan menembus seleksi beasiswa di atas, diantaranya:

Kelengkapan Dokumen

This is a must. Kalau dokumen tidak lengkap dan tidak mematuhi batas akhir pendaftaran, lupakan saja poin-poin berikut yang akan saya paparkan. Karena dokumen yang tidak lengkap akan langsung masuk tong sampah. Plung!

2. Rencana Penelitian

Setiap pemberi beasiswa mempunyai mission statement khusus tentang organisasinya, oleh karena itu perhatikan baik-baik apakah rencana penelitian kita selaras dengan misi organisasi mereka. Jikapun tidak sama persis, setidaknya carilah irisan (intersection) topic yang bisa memberikan kontribusi pada organisasi tersebut. Oleh karena itu, jangan lelah untuk mengubah bentuk atau mendesain ulang rencana penelitian. Tokh rencana penelitian akan selalu berubah-ubah tergantung pembimbing akademik kita.

Cara paling mudah untuk menyesuaikan rencana penelitian adalah dengan membaca baik-baik profil organisasi dan tujuan diberikannya beasiswa. Selain itu, perhatikan baik-baik profil penerima beasiswa tahun-tahun sebelumnya. Informasi ini biasanya mudah didapatkan di website penyelenggara beasiswa.

3. Rekomendasi

Suatu kali, saya pernah menghabiskan waktu seharian dengan seorang professor yang kebetulan menjadi tim seleksi Fulbright di Washington DC. Beliau merekrut professor Amerika yang akan dikirimkan ke negara lain. Bagi tim beliau, setelah kelengkapan dokumen, hal berikutnya yang mereka periksa adalah surat rekomendasi: bukan cuma siapa yang menulis rekomendasi, tetapi apa yang mereka tulis disitu, walaupun si penulis rekomendasi bukan orang ternama.
Pesan beliau: Jangan terjebak pada surat rekomendasi normative dalam satu halaman, seperti “Si A adalah mahasiswa pintar dan saya rekomendasikan blah..blah..blah..”. Sebaiknya, surat rekomendasi berisi detail, misalnya:

Si X adalah salah satu mahasiswa saya yang paling potensial Dia mengambil kelas saya tentang..blah..blah..dan aktif berpartisipasi dalam diskusi, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan menulis tugas akhir yang sangat menarik sehingga saya tidak segan-segan memberinya nilai A. Disamping itu, X memiliki kualitas kepemimpinan yang menonjol dibandingkan teman-temannya, hal ini dibuktikan dengan..blah..blah..blah…

Tentu saja isinya sangat subjektif, karena tergantung si penulis rekomendasi dan seberapa dekat kita dengan penulis rekomedasi tersebut.

Ingat: surat rekomendasi harus bisa memberikan justifikasi mengapa si pelamar berhak mendapatkan beasiswa, bukan hanya rekomendasi normative tanpa “nyawa”. Selain itu, jangan mengulang hal-hal yang sudah disebutkan dalam CV.

4. Pengalaman profesi

Pengalaman profesi tentu saja mempunyai nilai plus, tetapi tidak mutlak. Pengalaman kerja membuktikan sisi lain dari kemampuan leadership pelamar.

5. Pengalaman kerja sukarela

Kerja sukarela kelihatannya sepele, tetapi memegang peranan penting dalam pemberian beasiswa. Setiap beasiswa yang saya lamar, mereka mempunyai lembaran khusus tentang pertanyaan: apa yang sudah pernah Anda lakukan pada masyarakat (terutama perempuan dan anak)? Mentoring seperti apa yang telah dan sedang anda berikan pada komunitas?
Banyak rekan Amerika saya yang punya IP 4.00 skala 4.00 gugur dalam pencarian beasiswa karena tidak punya pengalaman ini. Seperti teman-teman ketahui, rata-rata mahasiswa PhD di Amerika berusia 23 sampai 27 tahunan yang waktunya dihabiskan untuk sekolah sejak lulus S1. Mereka alpa bahwa kerja sukarela dan membangun komunitas adalah wujud pengamalan ilmu yang mereka pelajari.

Oleh karena itu, jika teman-teman berniat mendaftar beasiswa di tahun mendatang, mulailah untuk melakukan kerja sosial dari sekarang. Apakah itu dengan membantu organisasi yang sudah berdiri atau membuat kegiatan baru atas inisiatif sendiri. Apalagi jika kegiatan sosial tersebut selaras dengan rencana penelitian kita.

6. Wawancara

Hampir semua beasiswa melakukan seleksi wawancara, baik itu secara tatap muka atau melalui telepon. Kunci wawancara sederhana saja: kita harus menguasai apa yang ingin kita pelajari atau teliti, konsisten dengan topic tersebut, harus bisa menjelaskan apa guna penelitian tersebut bagi masyarakat dan negara, dan harus bisa mengatakan secara percaya diri mengapa Anda layak mendapatkan beasiswa.
Selain itu, hindari membandingkan diri dengan orang lain, misalnya: kalau orang lain begini, tetapi saya begitu. Sebaiknya berikan fakta-fakta positif tentang diri Anda yang bisa memperkuat argumen bahwa Anda adalah yang terbaik.

Sebelum wawancara dimulai, biasanya panel pewawancara memperkenalkan diri termasuk latar belakang dan bidang keahliannya. Simak baik-baik apa yang mereka katakan, carilah keterhubungan latar belakang dan penelitian Anda dengan mereka. Menurut pengalaman, Anda bisa menilai efektivitas keterhubungan ini di akhir wawancara, karena Anda akan segera paham siapa diantara panel pewawancara tersebut yang mendukung dan siapa yang tidak.

7. Hubungi Alumni penerima beasiswa yang Anda lamar (tambahan info dari Ika Nurhayani-Cornell University)

Menghubungi dan mendengarkan pengalaman dari alumni penerima beasiswa yang Anda lamar akan memberikan insight dan strategi yang bermanfaat, terutama dalam dos and don'ts.

8. Konferensi dan Publikasi (tambahan info dari Ika Nurhayani-Cornell University)

Apabila Anda mencantumkan daftar publikasi ilmiah dan presentasi di Konferensi, tentu saja hal tersebut membuat peluang Anda lebih besar dari kandidat lain. Jika Anda belum pernah melakukan presentasi di sebuah konferensi, sebaiknya Anda mulai dari sekarang. Carilah konferensi (di bidang Anda atau yang bersinggungan dengan bidang Anda) di universitas lokal, nasional, maupun internasional. Konferensi di tingkat nasional lebih mudah dilakukan karena tidak memakan biaya terlalu banyak, tetapi banyak juga konferensi regional ASEAN yang menawarkan subsidi bahkan sponsor penuh (termasuk tiket pesawat dan hotel) bagi para pembicara/presenter. Coba Anda kunjungi conferencealert.com sebulan sekali untuk mendapat informasi. Hal yang sama berlaku bagi publikasi. Mulailah rajin mencari "call for paper" untuk publikasi atau mulailah menulis dan mengirmkannya ke jurnal nasional atau internasional.

Sekali lagi, publikasi tidak mutlak menentukan seseorang lolos mendapat beasiswa atau tidak, tetapi membuat peluang Anda lebih BESAR dibandingkan kandidat lainnya.

9. Faktor X

Selain hal-hal di atas, ada faktor X yang kelihatannya sepele dan gombal tetapi bisa menentukan keberhasilan, walaupun tidak masuk akal, yaitu: keterhubungan acak (random connectedness)

Menurut pengalaman saya ketika mendaftar beasiswa di salah satu sayap lembaga keuangan dunia di Washington DC, mereka menginginkan kandidat yang concern pada pendidikan dan kesehatan. Bidang saya tidak secara langsung berhubungan dengan kedua bidang itu, tetapi saya bisa menemukan irisan kepentigannya. Selama wawancara, saya tidak yakin akan berhasil, hanya satu pertanyaan yang membuat saya optimis menjawabnya: “why do you think you are the best candidate for this scholarship?” Saya bilang “saya tidak cuma berencana akan mengerjakan ini-itu di Indonesia, tetapi saya telah membuat impact. Dengan beasiswa ini saya bisa menyelesaikan S3 saya dan dengan Ph.D degree saya yakin akan membuat impact yang lebih besar lagi.”

Sebulan kemudian, saya mendapat kabar bahwa saya mendapatkan special award untuk beasiswa tersebut. Dalam resepsi penerimaan beasiswa yang dilakukan di boardroom Bank Dunia selama tiga hari berturut-turut, seorang panitia seleksi mendekati saya. Seorang perempuan Jepang yang menikahi pria Amerika yang mempunyai jabatan senior di Bank tersebut. Dia bilang, “sebetulnya area penelitianmu tidak selaras dengan missi organisasi, tetapi ada interseksional di bidang pendidikan dan saya pernah tinggal di Jakarta di tahun-tahun itu, dan banyak orang menghargai apa yang kamu lakukan. Oleh karena itu, saya mempertahankan dirimu sekuat tenaga agar menjadi penerima beasiswa.”

Resepsi tersebut dilanjut dengan makan malam yang dibuka oleh Sri Mulyani Indrawati, mewakili Presdir Bank Dunia yang saat itu sedang ke luar negeri. Meja makan malam diatur sehingga penerima beasiswa, panitia seleksi, dan pejabat Bank Dunia berbaur dalam satu meja. Di sebelah saya duduk seorang perempuan Amerika bersuamikan warga negara Jepang yang rupanya menjadi pejabat senior di Bank Dunia. Si Jepang bertanya: “siapa sih SMI di Indonesia?”. Maklumlah, posisi Managing Director adalah posisi politis, bukan karir. Anyway, yang menarik dari pasangan ini adalah si istri yang juga mencalonkan saya sebagai salah satu pemenang beasiswa. Alasannya: “saya dan suami bertemu di Fujionimya, dan saya lihat di CV kamu, kamu menghabiskan dua tahun belajar bahasa di sana”.
Halah…. ternyata hal yang paling vital dalam pengambilan keputusan beasiswa saya adalah dua perempuan ini.
Beasiswa pun bisa sangat subyektif!
Faktor X inilah sedikit banyak ditentukan oleh doa dan keberuntungan.

Selamat berburu beasiswa.


Tonawanda, New York, 27 December 2011

Jumat, 17 Oktober 2008

Silaturahmi Ala Facebook

Sebagai mahasiswa baru dan datang dari negara yang mengadopsi system pendidikan yang berbeda, saya perlu menggali banyak informasi sehingga saya rajin nodong senior untuk sekedar minum kopi dan berbagi best practice mereka selama kuliah. Kemarin sore saya berhasil meminta Alicia yang hampir merampungkan doktoralnya untuk minum kopi. Saya tidak begitu mengenalnya, tetapi kopi cukup ampuh untuk melumerkan hubungan senior dan junior dalam percakapan yang cukup hangat. Setelah pertemuan selesai Alicia bertanya: “nanti malam mau datang ke acara Khaled Hosseini (penulis The Kite Runner) ya?” , saya kaget dan bertanya: “how did you know?”. “Facebook…..” jawab Alicia. Dan dia menawarkan 2 extra tiket sehingga saya bisa mengajak teman-teman saya (kalau beli harganya $28).

Di lain waktu saya membuat janji dengan teman sekelas. Dia seorang Amerika keturunan Italia dan penyair yang terkenal di Buffalo. Di akhir pertemuan dia bertanya: “apa yang bisa saya lakukan untuk membantu mengatasi homesick?”, terus saya balik bertanya: “homesick?”, lalu dia jawab “ saya membaca dari tagline Facebook-mu” katanya.

Subhanallah, terlepas dari kalangan yang ingin menjaga privacy, saya sangat terharu bahwa teman-teman saya menyimpan perhatian hanya karena sebuah tagline. Hubungan saya dan teman-teman di kampus yang secara fisik sangat kaku (entah karena sibuk atau jaim) menjadi hangat dengan silaturahim virtual.

Di luar itu, Facebook menghubungkan saya dengan teman-teman lama yang tersebar di berbagai belahan dunia. Saya yang belum tentu bertemu dan berkenalan dengan keluarga mereka satu per satu di dunia nyata menjadi setidaknya bisa melihat bahwa teman saya mempunyai keluarga yang harmonis, berapa anaknya, siapa istri/suaminya, bahkan siapa yang sedang memproses perceraian.

Lebih jauh lagi, pertama kali datang ke Buffalo saya tidak mempunyai teman. Sekalinya saya menulis tagline di Facebook, teman lama saya di New Jersey...yang kenal di milis selama 7 tahun tapi belum pernah bertemu secara fisik…mengenalkan saya kepada teman-temannya yang ada di Buffalo dan mengirim saya Handphone yang tidak terpakai, sehingga saya bisa berkomunikasi.

Tidak heran jika Facebook mempunyai pemakai 100 juta orang. Layanan virtual ini sangat efektif dalam menghubungkan orang. Pihak universitas yang seringkali pusing karena announcement mereka diabaikan pada akhirnya memakai Facebook sebagai media komunikasi. Terbukti, undangan meeting atau event lebih direspon mahasiswa dengan cara memposting di Facebook dari pada menerbitkan newsletter , karena Facebook sudah menjadi bagian hidup mahasiswa seperti halnya dengan e-mail.

Perang Pohon


Perbatasan Palestina dan Israel selalu menarik untuk diperhatikan. Ketika raga tidak berkonfrontrasi, maka pohon yang mengambil alih peran sebagai invader. Gejala ini terlihat jelas di West Bank, di mana tanah bercabang dua (bifurcated): pohon pinus sebagai representasi Israel dan pohon zaitun mewakili Palestina.

Penandaan perbatasan ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi dilandasi pada keyakinan “land without people is for people without land”. Walaupun tanah tersebut jelas-jelas merupakan milik Palestina, tetapi pada saat itu tidak berpenghuni, dan dianggap sebagai lahan mati.

Menurut Ottoman Land Code article 78, kepemilikan tanah secara legal akan diberikan pada mereka yang menggarap dan menanami tanah (cultivated) selama 10 tahun. Perturan tersebut dilandaskan pada konsep terra-nullius (tanah kosong) yang ditingkahi paham John Lockean yang menyatakan bahwa “the initiator of the idea that labored nature established ownership”. Sejak awal pendudukan, Israel menanam pohon pinus di area West Bank dan mencoba mengklaim tanah lewat pengadilan berdasarkan article 78. Pengadilan yang memakan waktu bertahun-tahun menjadikan perbatasan itu semakin dinamis. Palestina yang menyadari wilayahnya berada dalam ancaman segera menanam pohon zaitun.

Alasan Israel memilih pohon pinus karena ia cepat tumbuh, (secara mudah mengklaim usia kultivasi 10 tahun karena tinggi pohon), visible oleh mata telanjang, dan membangun demarkasi yang sangat jelas antara tanah pendudukan dan Palestina--terutama melalui foto satelit, dan tidak bisa dipindahkan. Orang Palestina tak kalah cerdik, mereka menanam zaitun karena article 78 mensyaratkan “cultivated” yaitu pohon yang bisa dijadikan bahan konsumsi.

Selama pengklaiman tanah bergulir di pengadilan, penjaga perbatasan Israel rajin mencabut pohon zaitun dan menggantinya dengan pinus untuk memperluas area. Sebaliknya, Palestina sibuk menebang pohon pinus dan menanamnya dengan zaitun untuk merebut lagi tanah mereka. Penanaman, pencabutan, penanaman kembali, dan mencabut kembali adalah aktivitas “perang sipil” yang terjadi di West Bank selama bertahun-tahun, sampai akhirnya pengadilan memutuskan bahwa klaim tanah Israel ditolak karena pohon pinus bukan “cultivated vegetation”. Tentu saja keputusan ini mengundang reaksi dan wacana tentang pinus berkembang dan berujung pada kesimpulan bahwa pinus juga pohon kultivasi karena biji pinus bisa dimakan dan ranting pinus bisa dikonsumsi oleh kambing.

Sampai saat ini perebutan tanah masih berlangsung. Melalui JNF , Israel mengumpulkan dana untuk membeli lebih banyak pohon untuk ditanam, baik lewat sumbangan-sumbangan kecil oleh anak-anak maupun dalam skala besar. Oleh karena media massa lebih tertarik dengan perang bersenjata, maka perang sipil ini luput dari perhatian. Tanpa menumpahkan darah dan secara diam-diam, sedikit demi sedikit tanah Palestina beralih tangan..

(Disarikan dari “The Tree is the Enemy of Soldier”: A Sociological Making of War Landscapes in the Occupied West Bank. Irus Braverman)